Pengaruh Mikronutrien Terhadap Kemampuan Motorik Anak Balita Stunting



Pengaruh Mikronutrien Terhadap Kemampuan Motorik Anak Balita Stunting
(Adila, Maria Theodora Natalia Hurint dan Tanaya Fadilla Puteri)


Masa balita merupakan masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada tiga tahun pertama. Pada masa-masa tersebut, peran otak sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak (Ikonomidou, 2009). Apabila terjadi malnutrisi pada seorang anak, akan berkonsekuensi jangka panjang. Ketika dewasa akan menyebabkan resiko tinggi yaitu terkena penyakit kronis yang berkaitan dengan gizi dan mengakibatkan anak menjadi pendek (Uauy, dkk., 2008). Masalah gizi yang kurang ini memberikan kontribusi terhadap tingginya rata-rata angka kematian di negara sedang berkembang. Anak-anak yang mengalami gizi kurang atau malnutrisi tidak mempunyai cadangan lemak dan sangat sedikit otot. Perkembangan otak menjadi lambat oleh karena anak-anak mengalami insiden penyakit yang tinggi karena tubuh tidak mampu melawan infeksi.
Anak yang malnutrisi sering kali juga mengalami anemia. Malnutrisi maupun anemia dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan fungsi kognitif, psikomotor dan daya tahan tubuh anak, karena pada umumnya anak yang malnutrisi selain kekurangan energi dan protein juga mengalami kekurangan berbagai mikronutrien. Pertumbuhan dan perkembangan pada anak terjadi mulai dari secara fisik, intelektual, maupun emosional. Pertumbuhan dan perkembangan secara fisik dapat berupa perubahan ukuran besar kecilnya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga perubahan organ tubuh. Pertumbuhan fisik sering dijadikan indikator status gizi baik individu maupun populasi. Anak-anak yang menderita gizi kurang akan berpenampilan lebih pendek dari badan yang normal dibandingkan dengan rekan-rekannya sebaya yang sehat dan bergizi baik. Bila defisiensi gizi berlangsung lama dan parah, maka tinggi badan akan terpengaruh, bahkan proses pendewasaan mulai terganggu.
Malnutrisi secara bahasa merupakan pemberian gizi salah. Pemberian gizi yang salah dapat berarti kekurangan gizi dapat pula berarti kelebihan gizi. Namun, pengertian umum yang digunakan oleh WHO adalah malnutrisi yang berarti kekurangan gizi. Gizi yang kurang adalah bentuk dari malnutrisi akibat dari kekurangan ketersediaan zat gizi yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh. Salah satu tanda-tanda kurang gizi adalah lambatnya pertumbuhan yang dicirikan dengan kehilangan lemak tubuh dalam jumlah berlebihan, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Malnutrisi pada anak dapat dilihat dari 3 bentuk yaitu stunting yang berarti tinggi badan kurang menurut umur (TB/U), wasting yang berarti berat badan kurang menurut umur (BB/U), dan undernutrition berat badan kurang menurut tinggi badan (BB/TB) (Gibson, 2005).
UNICEF (2004) menyatakan bahwa malnutrisi berarti lebih dari sekedar perasaan lapar atau tidak mempunyai cukup makanan untuk dimakan. Ketidakcukupan makanan dapat menyebabkan berbagai jenis malnutrisi. Jika tubuh tidak menerima energi yang dibutuhkan dalam makanan, maka kehilangan berat badan akan terjadi. Anak-anak yang mengalami malnutrisi tidak mempunyai cadangan lemak dan sedikit otot. Tubuh membutuhkan mikronutrien dari makanan karena tubuh tidak dapat membuat seluruh mikronutrien untuk kenormalan fungsi tubuh. Mikronutrien ini termasuk vitamin A, vitamin B, vitamin C, folat, seng, kalsium, iodium dan besi. Defisiensi beberapa zat gizi merupakan masalah kesehatan yang sangat serius di dunia, karena defisiensi beberapa zat gizi ini penyebab utama terjadinya anemia pada anak-anak.
Malnutrisi berakibat secara defisiensi mikronutrien biasanya terjadi secara simultan. Hal ini yang menyebabkan perkembangan motorik pada anak terganggu. Beberapa penelitian menemukan keterkaitan antara pertumbuhan tinggi badan dan perubahan perkembangan pada usia 3 tahun pertama. Studi pada binatang menunjukkan bahwa serebellum otak yang mengoordinasi gerak motorik merupakan bagian yang paling rentan rusak pada masa bayi. Sehingga malnutrisi di awal kehidupan anak akan menghambat perkembangan motorik. Pada anak yang mengalami stunting diduga akan mempunyai aktivitas motorik yang rendah (Wani, 2010). Penelitian selanjutnya oleh Hyder, dkk. (2007) di wilayah pedesaan Bangladesh yang menunjukkan bahwa intervensi multimikronutrien dapat menurunkan kejadian anemia lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol, demikian pula dengan perubahan status vitamin A dan status Zn yang menunjukkan efek yang lebih baik dibanding dengan kelompok kontrol. Infestasi cacing merupakan faktor lain yang dapat memicu terjadinya malnutrisi.
Stunting adalah Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.
Stunting menggambarkan keadaan gizi yang kurang yang dan memerlukan waktu bagi anak untuk berkembang serta pulih kembali. Sejumlah penelitian memperlihatkan keterkaitan antara stunting dengan perkembangan motorik dan mental yang buruk pada usia kanak-kanak dini, serta prestasi kognitif dan prestasi sekolah yang buruk pada usia kanak-kanak lanjut (Gibney, dkk., 2018).
Stunting menyebabkan terhambatnya perkembangan motorik kasar maupun halus, karena pada anak stunting terjadi keterlambatan kematangan sel-sel saraf terutama di bagian cerebellum yang merupakan pusat koordinasi gerak motorik (Mc Gregor, 2005). Dikuatkan kembali oleh Solihin, dkk., (2013) bahwa stunting juga dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan sistem motorik, baik pada anak yang normal maupun menyidap penyakit tertentu. Penurunan fungsi motorik anak stunting tanpa kelaian bawaan berkaitan dengan rendahnya kemampuan makanik dari otot trisep akibat lambatnya kematangan fungsi otot.
Hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 30,8%. Dibandingkan Prevalensi stunting secara nasional tahun 2013 adalah 37,2%. Hal ini berarti  prevalensi stunting mengalami penurunan. Stunting berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan dan kematian serta pertumbuhan mental dan motorik yang terhambat (Waterlow, 1994). Perkembangan motorik yang terlambat mengakibatkan anak belum bisa melakukan tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usianya. Periode penting dalam perkembangan motorik anak adalah tiga tahun pertama yang merupakan periode kritis kehidupan anak (Soetjiningsih, 1995). Stunting yang terjadi pada balita akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan intelektual anak. Secara tidak langsung dampak tersebut dapat berakibat pada penurunan produktivitas, peningkatan risiko penyakit degenaratif, peningkatan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah di masa mendatang. Dampak tersebut dapat meningkatkan kemiskinan dimasa yang akan datang dan secara tidak langsung akan memengaruhi ketahanan pangan keluarga.
Penyebab Stunting adalah faktor infeksi dan defisiensi makronutrien serta mikronutrien, seperti besi, seng, vitamin A dan vitamin B yang berlangsung lama (Waterlow, 1994). Vitamin A dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan sel epitel, vitamin B berguna untuk mengoptimalkan fungsi otak dan mencegah adanya kerusakan syaraf, seng dibutuhkan untuk sintesis protein dan besi merupakan mineral utama dalam pendistribusian oksigen serta katalis dalam proses perpindahan energi ke sel (Kathleen, 2008). Kementerian Kesehatan RI bersama Pusat Teknologi Terapan dan Epidemiologi Klinik (2010) mengembangkan micronutrient sprinkle yang disesuaikan dengan masalah gizi mikro yang terjadi di Indonesia dengan nama Taburia. Menurut Stanley, dkk. (2005) Micronutrient Sprinkle adalah bubuk tabur yang terdiri dari 16 vitamin dan mineral, untuk mengatasi masalah gizi kurang dan kekurangan zat gizi mikro. Anak yang mendapat perlakuan beberapa micronutrient setiap minggu selama tujuh bulan memiliki skor perkembangan motorik lebih baik dibanding yang tidak (Afarwuah, 2007).
Kegiatan PAUD meningkatkan stimulasi terhadap aktivitas anak, perkembangan optimal motorik halus dan kasar dipengaruhi oleh aktivitas anak. Penelitian Gardner (2005) pada anak stunting di Jamaika menunjukkan bahwa perkembangan motorik anak lebih dengan status gizi, kemampuan motorik anak stunting hampir sama dengan dipengaruhi oleh stimulasi dibanding anak-anak normal setelah menerima stimulasi dan suplementasi. Selanjutnya penelitian Afarwuah, dkk. (2007) mengenai kohort di Ghana melaporkan anak berusia 12 bulan yang menerima 3 macam intervensi (micronutrient sprinkle, crushable nutritabs, fat-based nutributter) kedalam makanan sehari-hari mempunyai nilai perkembangan motorik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak menerimanya.
Penelitian serupa diteliti oleh Nugroho (2014) menggunakan penelitian kuasi eksperimen dengan subjek sebanyak 63 anak usia 24 – 48 bulan yang pendek di Bandar Lampung. Sebanyak 31 anak sebagai kelompok perlakuan dan 32 anak kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapat sprinkle mikronutrien 2 hari sekali selama 2 bulan. Perkembangan motorik kasar dan morotik halus diukur dengan kuesioner deteksi tubuh kembang Denver Tes II sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebelum perlakuan tidak ada perbedaan usia, jenis kelamin, asupan energi, protein, seng, asam folat dan perkembangan. Persentase keterlambatan motorik halus sebelum perlakuan adalah 48,4% pada kelompok perlakuan dan 53,1% pada kelompok kontrol. Sedangkan persen keterlambatan motorik kasar adalah 32,3% pada kelompok perlakuan 34,4% pada kelompok kontrol.
Setelah intervensi, persentase keterlambatan perkembangan motorik halus signifikan menurun 25,8%, pada kelompok perlakuan dan 34,4% pada kelompok kontrol, sedangkan persentase keterlambatan perkembangan motorik kasar pada kelompok kontrol signifikan menurun menjadi 12,5%, namun tidak signifikan menurun menjadi 16,1% pada kelompok perlakuan. Variabel diduga sebagai perancu dalam penelitian ini adalah meliputi tingkat kecukupan energi, protein, seng, besi dan asam folat. Tidak ada perbedaan persentase keterlambatan perkembangan motorik halus (p = 0.514) dan motorik kasar (p = 0.571) setelah intervensi dan setelah mengendalikan dengan variabel pengganggu.
Penelitian selanjutnya oleh Purwandini (2013) menggunakan penelitian eksperimenal dengan kontrol grup yang dilakukan selama 2 bulan pada balita stunting berusia 1-3 tahun di Kelurahan Rowosari, Tembalang, Semarang. Subjek dibagi secara acak menjadi kelompok perlakuan dan kontrol. Intervensi berupa pemberian micronutrient sprinkle 2 hari sekali. Kelompok intervensi dan kontrol diberikan penyuluhan 2 minggu sekali. Perkembangan motorik kasar dan halus diukur dengan Denver Development Screening Test II pada sebelum, 1 bulan dan 2 bulan sesudah intervensi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebelum perlakuan tidak ada perbedaan umur, jenis kelamin dan persen keterlambatan.
Persen keterlambatan motorik kasar sebelum perlakuan adalah 40% pada kelompok perlakuan dan 42% pada kelompok kontrol, sedangkan persen keterlambatan motorik halus adalah 35% pada kelompok perlakuan dan 38,1% pada kelompok kontrol. Pada satu bulan intervensi, belum terjadi penurunan persen keterlambatan motorik kasar tetapi ada penurunan persen keterlambatan motorik halus pada kelompok perlakuan menjadi 15% sedangkan pada kelompok kontrol 33,3%. Setelah dua bulan intervensi terjadi penurunan persentase keterlambatan motorik kasar pada kelompok perlakuan menjadi 10%, pada kelompok kontrol 23,8%, sedangkan persen keterlambatan motorik halus pada kelompok perlakuan menurun secara signifikan menjadi 5% (p=0,031) dan pada kelompok kontrol masih 28,6%.
Penelitian Nugroho (2014) menyimpulkan bahwa suplementasi sprinkle micronutrien selama dua bulan tidak mempengaruhi perkembangan motorik halus dan motorik kasar pada anak stunting 24 sampai 48 bulan. Sementara itu, penelitian Purwandini (2013) menyimpulkan bahwa pemberian micronutrient sprinkle selama 2 bulan, mampu menurunkan presentase keterlambatan perkembangan motorik halus secara signifikan.
Defisiensi makronutrien dan mikronutrien dapat disimpulkan bahwa masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Anemia defisiensi besi, defisiensi zink, kurang vitamin A dan gangguan akibat kekurangan Iodium merupakan masalah defisiensi mikronutrien di Indonesia. Misalnya kekurangan vitamin A dapat membuat daya tahan tubuh anak melemah, kekurangan iodium dapat mengganggu pertumbuhan otak anak atau kemampuan kognitif, dan zat besi yang berpotensi menyebabkan anemia.
Mikronutrien atau zat gizi mikro merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit. Namun mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan hormon, aktivitas enzim serta mengatur fungsi sistem imun dan sistem reproduksi. Jenis dari mikronutrien adalah vitamin (baik yang larut air maupun larut lemak) dan mineral. Mikronutrien diperoleh dari luar tubuh seperti dari makanan atau suplemen, karena tubuh tidak mampu memproduksinya dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Anak dimasa pertumbuhannya sangat penting mendapat gizi yang seimbang dan optimal. Salah satunya yang sering ditekankan adalah makanan-makanan yang mengandung cukup karbohidrat, protein nabati, dan protein hewani. Namun, ada kandungan gizi mikronutrien yang tidak kalah penting yaitu yang berpengaruh terhadap pertumbuhan angka stunting di Indonesia. Anak-anak dapat mengonsumsi mikronutrien yang ada kandungannya seperti, vitamin A, zinc, asam folat, kalsium, iodium, dan masih banyak lagi.
Angka kecukupan gizi (AKG) tahun 2013, untuk zat besi anak 7 sampai 11 bulan membutuhkan 7 mg per hari. Angka ini bertambah untuk anak yang lebih tua dari itu. Zat besi ini bisa dipenuhi lewat ASI selama enam bulan pertama. Namun, setelah usia enam bulan, anak membutuhkan MPASI yang mengandung zat besi. Misalnya nasi tim pakai hati, ayam atau daging merah sebagai sumber zat besi yang paling baik. Akan tetapi, pola pemberian makan orang Indonesia kepada anak-anaknya tidak mencukupi kebutuhan zat gizi. Dampaknya anak mengalami anemia dan selain itu, banyaknya anak Indonesia yang mengalami stunting atau bertubuh pendek. Ini juga salah satu faktornya karena kekurangan zat besi.
Bagi keluarga sebaiknya memperhatikan asupan makan sejak masa kehamilan sampai bayi berusia 2 tahun untuk mencegah terjadinya kurang gizi dan penyakit infeksi yang berdampak pada terjadinya stunting. Asupan makan yang perlu diperhatikan baik itu secara makronutrien (sumber karbohidrat,protein lemak) dan juga mikronutrien (vitamin dan mineral) sejak masa kehamilan. Ini berguna untuk mengantisipasi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita. Orang tua juga perlu edukasi untuk meningkatkan stimulasi perkembangan pada balita stunting sesuai dengan poin-poin perkembangan. Untuk menghindari hal-hal yang terjadi atau bisa memperbaiki status perkembangan balita.
Pengukuran status perkembangan juga perlu kembali dilakukan setelah dua minggu pemberian edukasi kepada orang tua. Apabila status perkembangan masih tetap pada kategori mencurigakan, anak harus dirujuk ke puskesmas atau pusat pelayanan kesehatan untuk dilakukan pengkajian lebih lanjut. Bagi petugas puskesmas atau posyandu hendaknya lebih aktif memberikan penyuluhan dan konsultasi tentang pentingnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita. Selain itu, perlu diadakan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, sehingga dapat mengetahui adanya permasalahan pada tumbuh kembang balita dari dini. Dan perlu juga adanya pengasuhan yang baik dari keluarga seperti memberikan stimulasi dan dukungan bagi anak dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal sesuai apa yang diharapkan.









Daftar Pustaka
Afarwuah SA, Lartey A, Brown KH, Zlotkin S, Briend A, Dewey KG. 2007. Randomized Comparison of 3 Types of Micronutrient Supplements for Home Fortification of Complementary Foods in Ghana: Effects on Growth and Motor Development. Journal: The American Journal of Clinical Nutrition, 86 (2), 412-420, doi: https://doi.org/10.1093/ajcn/86.2.412 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Direktorat Bina Gizi Masyarakat. 2010. Apa dan Mengapa Tentang Taburia; panduan Praktis bagi kader. Jakarta: Dijen Binkesmas-kemenkes RI.
Gardner JMM, Powell GA, Henningham HB, Walker SP, Cole TJ, McGregor SMG. 2005. Zinc Supplementation and Psychosocial Stimulation: Effects On The Development Of Undernourished Jamaican Children. Journal: The American Journal of Clinical Nutrition, 82 (2), 399–405, doi: https://doi.org/10.1093/ajcn/82.2.399 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Gibney M, Margetts B, Kearney J, Arab L. 2008. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC.
Gibson, Rosalind S, dkk. 2005. Only A Small Proportion of Anemia in Northeast Thai Schoolchildren is Associated with Iron Deficiency. Journal: The American Journal of Clinical Nutrition, 82 (2), 380 – 387, doi: https://doi.org/10.1093/ajcn/82.2.380 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Hyder, SMZ., Haseen, F., Khan, M., Schaetzel,T., Jalal, CSB., Rahman, M., Lönnerdal, B., Mannar, V., Mehansho, H. 2007. A MultipleMicronutrient-Fortified Beverage Affects Hemoglobin, Iron, and Vitamin A Status and Growth in Adolescent Girls in Rural Bangladesh. J. Nutr. 137 (9), 2147-2153, doi: https://doi.org/10.1093/jn/137.9.2147 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Ikonomidou C. 2009. Triggers of Apoptosis in The Immature Brain. Journal: Brain & Development, 31 (7): 488–92, doi: https://doi.org/10.1016/j.braindev.2009.02.006 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Kementerian Kesehatan RI. 2018. Laporan riset kesehatan dasar 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Laporan riset kesehatan dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
L Kathleen Mahan and Sylvia Escott-Stump. 2008. Krause’s Food and Nutrition Therapy. Canada: Saunders Elsevier.
Mc Gregor SG, Henningham B. 2005. Review of the evidence linking protein and energy to mental development. Journal: Public Health Nutrition, 8 (7a): 1191–1201, doi: https://doi.org/10.1079/PHN2005805 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Nugroho Arie, Susanto Hardhono, Kartasurya Marta I. 2014. Pengaruh Mikronutrien Taburia Terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia 24-48 Bulan yang Stunting (Studi di Tanjungkarang Barat Kabupaten, Bandar Lampung). Jurnal: Gizi Indonesia, 3 (1), hlm. 52-59.
Purwandini Kurnia & Kartasurya Martha Irene. 2013. Pengaruh Pemberian Micronutrient Sprinkle Terhadap Perkembangan Motorik Anak Stunting Usia 12-36 Bulan. Jurnal: Journal of Nutrition College, (2), hlm. 50-59.
Solihin RDM, Anwar F, Sukandar D. 2013. Kaitan Antara Status Gizi, Perkembangan Kognitif, dan Perkembangan Motorik pada Anak Usia Prasekolah. Jurnal: Penelitian Gizi dan Makanan, 36(1), hlm. 62-72.
Stanley H Zlotkin, Claudia Schauer, Anna Christofides, dkk. 2005. Micronutrient Sprinkles to Control Childhood Anaemia. Journal: Plos Medicine, 2 (1), doi: https://doi.org/10.1371/journal.pmed.0020001 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Uauy R, Kain J, Mericq V, Rojas J, Corvalan C. 2008. Nutrition, Child Growth, and Chronic Disease Prevention. Journal: Annals of Medicine, 40 (1): 11–20, doi: https://doi.org/10.1080/07853890701704683 diakses pada tanggal 30 April 2020.
Wani Y. 2010. Perkembangan motorik kasar dan motorik halus pada anak-anak stunted usia 1-3 Tahun di pemukiman kumuh Kota Surakarta. Universitas Gadjah Mada.

Waterlow JC, Schurch B. 1994. Cause and Mechanism of Linear Growth Retardation. Eur J Clin Nutr, 48: S1-S216. 

Komentar